Senin, 02 Mei 2011

Tokoh betawi

banyak munkin tokoh betawi yang kita kenal, namun saya disini ingin informasikan beberapa tokoh betawi yang memiliki andil besar dalam meningkatkan citra suku betawi sebagai salah satu budaya yang ada  di indonesia :

1. Si Pitung


Kisah Si Pitung menggambarkan sosok pendekar Jakarta dalam menghadapi ketidakadilan yang ditimbulkan oleh penguasa Hindia Belanda pada masa itu.
Kisah ini diyakini nyata keberadaannya oleh para tokoh masyarakat Betawi terutama di daerah Kampung Marunda di mana terdapat Rumah dan Masjid lama.
Tempat Lahir
Si Pitung lahir di daerah Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bung Piung dan ibunya bernama Mbak Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing). Seperti yang dikisahkan dalam film Si Pitung (1970).
Nama Asli Si Pitung
Si Pitung merupakan nama panggilan asal kata dari Bahasa Jawa Pituan Pitulung (Kelompok Tujuh), kemudian nama panggilan ini menjadi Pitung. Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen).
Kesaktian dan Kematian Si Pitung
Berdasarkan cerita legenda, Si Pitung dapat dibunuh oleh Belanda dengan beragam argumen tersebut diatas. Menurut Hindia Olanda (18-10-1893:2) sebelum ditangkap Pitung dalam keadaan rambut terpotong beberapa jam sebelum kematiannya pada hari Sabtu. Seperti yang diceritrakan oleh legenda bahwa kesaktian Si Pitung hilang akibat jimat-nya diambil orang (Versi Film Si Pitung Banteng Betawi), tetapi yang menarik versi lain menyatakan, bahwa Si Pitung dapat di-"lemahkan" jika dipotong rambut-nya. Berdasarkan koran Hidia Olanda tersebut dikatakan bahwa sebelum kematiannya Si Pitung telah dipotong rambutnya.
pemakaman si pitung
'pemakamannya cukup membuat kompeni kerepotan karena seluruh penduduk ingin menyaksikan seorang pahlawan yaang mereka cintai akan berpulang, begitu juga dengan ibunya yang sedari tadi menangis meratapi kepergian anaknya pemakaman segera berlangsung
pitung diangkut ke sebuah lubang liang lahat tempat peristirahatannya dan pakaiannya yang belum dilepas,oleh ibunya dilepas dan di tempelkan ke pipinya dengan amat sedih.
2. Mohammad Husni Thamrin
Mohammad Husni Thamrin (lahir di Sawah BesarJakarta16 Februari 1894 – meninggal di Jakarta, 11 Januari 1941 pada umur 46 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ayahnya adalah seorang Belanda dengan ibu orang Betawi. Sejak kecil ia dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.[1]
Ia dikenal sebagai salah tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Dewan Rakyat di Hindia Belanda (Volksraad), mewakili kelompok Inlanders. Sejak 1935 ia menjadi anggota Volksraad melalui Parindra. Beliau juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepakbola Indonesia, karena beliau menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepakbola khusus untuk rakyat Hindia Belanda (Indonesia) pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (Jakarta).
Kematiannya penuh dengan intrik politik yang kontroversial. Tiga hari sebelum kematiannya, ia ditahan tanpa alasan jelas. Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri namun ada dugaan ia dibunuh oleh petugas penjara. Jenazahnya dimakamkan di TPU KaretJakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.[2]
Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta pada tahun 1970-an.
3. Ismail Marzuki
Ismail Marzuki (lahir di Kwitang, SenenBatavia11 Mei 1914 – meninggal di Kampung Bali, Tanah AbangJakarta25 Mei 1958 pada umur 44 tahun) adalah salah seorang komponis besar Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan SalembaJakarta Pusat.
Latar Belakang
smail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi.
4. Nasir
Nasir (meninggal di Jakarta12 April 2006) adalah seorang seniman lenong dan topeng Betawi.
Nasir menggeluti dunia lenong dan topeng Betawi sejak berusia 14 tahun mewarisi profesi orang tuanya. Pada tahun 1970-an, Televisi Republik Indonesia menayangkan program lenong Betawi dengan pemeran Nasir dan beberapa tokoh lenong lainnya, yaitu BokirSiti, serta Anen. Nasir turut mendirikan kelompok Lenong dan Tari Topeng "Setia Warga" pimpinan Bokir, dan lalu mendirikan kelompok kesenian sejenis yang diberinya nama "Sinar Jaya".
Nasir dianggap konsisten menghidupkan budaya asli Betawi melalui kesenian lenong yang digelutinya. Mandraaktor dan tokoh kesenian Betawi generasi setelah Nasir, menganggap Nasir sebagai senior di panggung lenong dan merupakan bapak tokoh-tokoh lenong dan topeng Betawi.
Nasir meninggal dunia pada 12 April 2006 setelah sempat menderita penyakit asma.
5. SM Ardan
Syahmardan, (lahir di Medan2 Februari 1932, meninggal di Jakarta26 November 2006), adalah sastrawan dan tokoh Betawi. Dia dikenal sebagai penyair, cerpenis, novelis, esais, dan penulis drama. Kebangkitan lenongtopeng Betawi, dan lain-lain tidak lepas dari tangannya.
Ardan yang pertama kali menggunakan dialek Betawi dalam karya sastra Indonesia. Barulah disusul Firman Muntaco, yang banyak banyak menulis sketsa-sketsa Betawi.
6. Rano Karno
Rano Karno (lahir di Jakarta8 Oktober 1960; umur 50 tahun) adalah seorang aktor Indonesia yang terkenal sebagai "Si Doel" dalam film sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Ayahnya adalah seorang aktor kawakan, Soekarno M. Noer. Selain itu dia juga mempunyai saudara kandung yang juga turut bermain film seperti Tino Karno dan Suti Karno. Ia pernah diwacanakan menjadi pendamping Fauzi Bowo sebagai wakil gubernur dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2007. Pada Maret 2008, ia menjadi Wakil Bupati Tangerang untuk periode 2008-2013.
ia banyak mengangkat kehidupan masyarat betawi sehari-hari dalam filmnya seperti SI DOEL ANAK SEKOLAHAN, dan bermain bersama beberapa tokoh betawi besar lainnya seperti mandra, suti karno dan benyamin sueb.

5. Deddy Mizwar
Deddy Mizwar (lahir di Jakarta5 Maret 1955; umur 56 tahun) adalah seorang aktor senior dan sutradara Indonesia. Ia adalah Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional periode 2006-2009.

Latar Belakang
Deddy adalah satu dari enam (sebetulnya tujuh, tetapi yang pertama meninggal karena lahir prematur) bersaudara hasil buah perkawinan H. Adrian Andres (Belanda-Bugis) dan Sun'ah (Bugis-Betawi) yang menikah pada tahun 1948.
mungkin banyak orang belum mengetahui bahwa sebenarnya deddy mizwar adalah seseorang yang memiliki darah betawi yang sangat kental. mungkin hal itu dikarenakan banyaknya peran yang ditampilkannya dalam peran-perannya difilm dan hasil karya yang berupa film lebih banyak menggangkat tema nusantara, tidak seperti rano karno yang sering mengangkat kehidupan masyarakat betawi.
6. Benyamin Sueb
Benyamin Sueb (lahir di KemayoranJakarta5 Maret 1939 – meninggal 5 September 1995 pada umur 56 tahun) adalah pemeranpelawaksutradaradan penyanyi Indonesia. Benyamin menghasilkan lebih dari 75 album musik dan 53 judul film.
mungkin dari sekian nama yang ada diatas pasti anda setuju dengan pernyataan bahwa benyamin sueb merupakan seseorang yang paling identik dengan suku betawi, ya.. dia memang dikenal dekat dan sudah menjadi  legenda bagi masyarakat betawi sampai saat ini. benyamin sueb merupakan seseorang dengan pribadi yang unik dan bersahaja, celotehnya yang ceplas ceplos khas masyarakat betawi menambah ketertarikan masyarakat kepadanya. selain itu juga benyamin sueb seorang yang multi talent dia banyak memunculkan ide-ide baru dalam setiap karya seninya, sampai saat ini pun karya-karya benyamin sueb masih banyak ditampilkan ditelevisi dan radio. terlebih lagi beliau memiliki sebuah radio yang sangat terkenal dijakarta Bens Radio yang setia menampilkan karya-karyanya. semenjak kematiannya radio tersebut diteruskan oleh anaknya sampai saat ini.



Bela Diri Khas Betawi

BEKSI : MAEN PUKULAN BETAWI
(Disarikan  dari buku karangan Yahya Saputra dan Irwan Sjafi’ie “Beksi, Maen Pukulan Khas Betawi’, diterbitkan oleh penerbit Gunung Jati,Jakarta 2002)


1.  Asal Usul Beksi 

Seni budaya beladiri yang oleh orang betawi disebut maen pukulan Beksi lahir dari kemampuan orang terpilih yang tiada hentinya melatih kepekaan inderawi, mengolah kelebihan atau kelenturan anatomi tubuh dan belajar sebanyak mungkin dari pertanda alam seperti riak sungai, hembusan angin, gerak dan laku macan, monyet, kelabang, belalang,dst (hal 19).

 Menurut buku ini, asal usul beksi ada beberapa versi.

a.   Versi pertama.  Versi ini dikisahkan oleh seorang sesepuh Beksi: H Atang Lenong (usia 84 tahun –ketika wawancara tahun 2001).  Beksi mulai muncul ke permukaan dalam kurun pertengahan abad 19 sekitar tahun 1850-1860-an. Pada masa ini ada seorang tuan tanah di daerah tangerang bernama Gow Hok Boen yang tinggal di kampung kosambi.  Tuan tanah ini kebetulan gemar akan beladiri dan menguasai ilmu kuntao atau kungfu.  Orang lokal tangerang mengenal Gow Hok Boen sebagai Tuan tanah kedaung.  

Sebagai tuan tanah, Tuan Gow punya sekian banyak centeng untuk membantunya. Kepala centengnya bernama Ki Kenong yang memiliki ilmu beladiri yang tinggi dan dicampur dengan ilmu sihir yang dahsyat.  Tertarik dengan beladiri, Tuan tanah ini mengadakan sayembara untuk mencari jagoan yang lebih hebat dari kepala centengnya dan mendapat kedudukan menggantikan jabatan sebagai kepala centeng. Maka setiap malam minggu diadakan pibu alias duel dengan banyak jagoan yang mau mengadu ilmu dan keberuntungan dengan melawan Ki Kenong.  

Namun dari sekian banyak penantangnya belum ada satupun yang berhasil mengalahkan Ki Kenong.  Tersebutlah ada seorang tukang singkong rebus (disebut ancemon atau singkong urap) bernama Pak Jidan yang setiap malam menjual singkong di tengah keramaian pertunjukan  duel ini.  Pak Jidan mengambil singkong dari hutan dekat tempat tinggalnya dan singkong tersebut tidak habis-habis dan seperti ada yang memelihara, namun karena di hutan Pak Jidan tidak ambil pusing.  Suatu sore, ketika pak Jidan beristirahat di rumahnya dia didatangi oleh seorang pemuda yang protes karena singkong yang dia tanam dan pelihara di hutan diambil oleh pak jidan.  Karena tidak tahu pak Jidan pun minta maaf.  Melihat keluguan dan kekjujuran pak Jidan serta hidupnya yang miskin, orang misterius itu menawarkan untuk membantu pak Jidan dengan memberi pelajaran maen pukulan; tanpa memandang waktu itu pak jidan sudah berumur sekitar 60-an.  

Singkat kata, Pak jidan menerima pelajaran maen pukulan sebanyak 8 jurus dan tiga atau empat lagi belum diajarkan, yang akan diajarkan oleh orang lain. Sebelum pergi orang misterius itu minta kemenyan dan berpesan bahwa dia bisa dipanggil-- jika pak jidan memerlukan --dengan membakar kemenyan dan membaca mantra.  Ketika orang itu pergi, Pak Jidan melihat ekor macan tersembul dari balik jubahnya dan juga tengkuknya terlihat loreng-loreng seperti layaknya kulit harimau.  Pak jidan pun terkejut dan maklum bahwa dia dikunjungi dan diajari maen pukulan oleh Ki Belang atau Siluman Macan Putih.  

Malam selanjutnya, pak Jidan berjualan seperti biasa di tengah pentas duel.  Disebabkan karena jengkel dengan jagoan-jagoan yang tidak bayar sewaktu makan singkong dagangannya, Pak Jidan menendang keranjang dagangannya dan melayang masuk ke tengah gelanggang.  Tuan tanah Gow pun marah dan menyuruh orang menyeret Pak Jidan  tengah arena dan memaksanya bertarung dengan Ki Kenong.  

Di luar dugaan, Pak Jidan mampu mengalahkan di Kenong dengan ilmu yang diajarkan oleh Ki Belang itu.  Menurut legenda, dengan jurus baroneng-lah  Pak Jidan melumpuhkan ilmu Ki Kenong yang terkenal dengan   ‘pukulan tangan berapi’.   Ketika ditanya oleh Tuan Gow tentang ilmu yang dipakai oleh Pak Jidan, dia tidak tahu apa namanya. Lalu tuan Gow Hok Boen menyebutnya Beksi artinya pertahanan empat mata angin.  Sejak itu terkenallah Pak Jidan—yang diangkat sebagai kepala pengawal keamanan-- dengan ilmu beksinya.

b.   Versi kedua diceritakan oleh H Mahtun (lahir di petukangan 1945). Alkisah di kampung bagian timur tangerang hiduplah seorang laki-laki yang mahir beladiri bernama Raja Bulu berusia sekitar 63 tahun yang hidup berdua dengan anaknya yang gagu (bisu), istrinya sudah meninggal dunia.  

Kehidupan Raja Bulu berkecukupan dengan pekerjaan mengajar silat dari kampong ke kampong. Si anak sendiri tidak mau belajar silat pada bapaknya.  Suatu ketika Raja bulu bertanya pada anaknya mengapa dia tidak mau belajar maen pukulan. Dan jawabannya sungguh mengejutkan:  karena di anak belum tentu kalah dalam sambut-pukul dengan Raja Bulu. 

Si ayah lalu mengetes dan terjadilah  pertarungan dan menjadi keteter atau kewalahan menghadapi ilmu anak bisu.  Akhirnya si anak mengaku bawah selama ini dia belajar maen pukulan di hutan dan dilatih oleh siluman mcan putih.  Karena belum ada nama, Raja bulu menyebut ilmu yang dikuasai oleh anaknya : Beksi:  sebab seperti segi empat dengan empat arah . Sejak itu Raja Bulu pun belajar pada anaknya dan ilmu ini pun diajarkan ke murid-muridnya.Demikian beksi pun berkembang. 

Dalam perkembangan selanjutnya para pendekar Beksi memberi banyak makna pada ilmu maen-pukulan ini. Ada yang mengartikan BEKSI= Berbaktilah Engkau pada Sesama Insan ....

Asal usul di atas merupakan folklore, cerita rakyat berisi legenda yang didalamnya terdapat unsur-unsur kenyataan dan juga mitos atau legenda.    


2. Tokoh-tokoh  Beksi

Hampir semua aliran beksi mengakui bahwa yang mengajarkan pertama-tama ilmu beksi adalah Ki Kidan ( Ki Iban) dan atau Raja Bulu.

Lebih lanjut inilah para tokohnya berdasarkan generasi:

Generasi I   : Raja Bulu dan Ki Jidan (Ki Iban)

Generasi II   : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah

Generasi III   : Kong Marhali, Nyi Mas Melati, Kong Godjalih

Generasi IV   : Kong H Hasbullah, Kong HM Nur, Kong Simin, Minggu, Salam Kalut, H Mansyur, Muhammad Bopeng

Generasi V   : Tonganih, Dimroh, HM Yusuf, HM Nuh, Sidik, H Namat, H Syahro, Mandor Simin, Umar

Generasi VI   :H Machtum, Tong tirih, H Dani, Udin Sakor, Soleh, Tholib/syaiful, dll

Generasi VII   : Abdul Aziz, Abdul Malik, HA Yani, Mftah, Nasrullah, dll


Ki Iban/Raja Bulu memiliki murid yaitu : Ki Lie Cengk Ok, Ki Tempang, Ki Muna, Ki Dalang Ji’ah.

Yang belajar pada atau menjadi murid dari Ki Ceng Ok yaitu : Kong Godjalih, Kong Marhali. Sedangkan Nyimas Melati berguru pada Ki Dalang Ji’ah.

Para murud dari Ki Ceng Ok terus menerus menyebarkan Beksi hingg ke Jakarta dan tempat lain.  Mereka dikenal denga sebutan 'Beksi empat serangkai' yakni : Kong Jali, Kong Has, Kong Nur dan Kong Simin.  



3. Jurus-jurus dan belajar Beksi

Jurus-jurus Beksi terkenal dengan keras, cepat, ringkas dan mengarah pada tempat-tempat yang mematikan pada tubuh. 

Sebelum mempelajari jurus, murid biasanya mengikuti syarat penerimaan siswa yang disebut rosulan atau ngerosul; berupa tawasul disertai zikir tahlil memanjatkan doa pada Allah SWT agar dalam mempelajari beksi diberi kerido’an, kekuatan, ketabahan dan kesabaran.

Dalam permain-an jurus, ada banyak melakukan gedi-(k/g) atau hentakan kaki ke lantai dan gerakan tangan yang sangat cepat. Oleh sebab itu dianjurkan untuk melotot dan tidak berkedip dalam melihat gerak lawan.

Cara belajar –mengajar beksi :
a.   Diperkenalkan jurus. Murid menirukan  disebut juga : asal tau jalan
b.   Tuntun. Latihan gerak bela yang dituntun oleh guru dengan teknik dan aplikasi jurus
c.   Sambut.  Murid tanding dengan sesama murid atau guru dengan menggunakan jurus.


Secara fundamental ada 12 jurus dalam beksi dibeberapa tempat disebut dengan nama yang berbeda.



4. Manfaat Beksi
Beksi sangat bermanfaat sebagai antara lain :
  1. Olahraga yang mana melalui gerakan jurus-jurusnya sangat baik untuk menjaga vitalitas dan kebugaran
  2. Budaya, dimana Beksi adalah silat asli Indonesia dan banyak digunakan dalam acara budaya baik lenong, blantek, palang pintu dan acara-acara peradatan lain.
  3. Jatidiri, adalah menjadi kekhususan dan kebanggaan dimana kemudian beksi menjadi salah satu ikon identitas asli anakbangsa
  4. Sosial, melalui latihan beksi yang kontinyu dan terarah maka beksi adalah ajang pemersatu sekaligus ajang silaturahmi. Adalah merupakan sebuah budaya baku bagi pesilat beksi bahwa penghormatan dan penghargaan dan kesetiakawanan merupakan doktrin yang masih dipegang teguh sampai saat ini.
  5. Moral, dalam perjalanan kemudian bahwa para murid dan pesilat beksi mendapatkan pelajaran moral/etika yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  6. Sebagai Ilmu Beladiri, pesilat beksi akan sangat terlatih kepekaan dan sensitivitas spontannya bila ada serangan atau bahaya yang mengancam dirinya. Ilmu beladiri secara umum akan berguna sebagai pertahanan diri, kepercayaan diri, kebanggaan diri, keberanian memutuskan dan lain-lain.

Senin, 25 April 2011

Kesenian Musik Khas Betawi

1. Gambang Kromong

Salah satu musik khas dari kesenian Betawi yang paling terkenal adalah Gambang Kromong, dimana dalam setiap kesempatan perihal Betawi,  Gambang Kromong selalu menjadi tempat yang paling utama. Hampir setiap pemberitaan yang ditayangkan di televisi, Gambang Kromong selalu menjadi ilustrasi musiknya.

Kesenian musik ini merupakan perpaduan dari kesenian musik setempat dengan  Cina. Hal ini dapat dilihat dari instrumen musik yang digunakan, seperti alat musik gesek dari Cina yang bernama Kongahyan, Tehyan dan Sukong. Sementara alat musik Betawi antara lain; gambang, kromong, kemor, kecrek, gendang kempul dan gong.
Kesenian Gambang Kromong berkembang pada abad 18, khususnya di sekitaran daerah Tangerang. Bermula dari sekelompok grup musik yang dimainkan oleh beberapa orang pekerja pribumi di perkebunan milik Nie Hu Kong yang berkolaborasi dengan dua orang wanita perantauan Cina yang baru tiba dengan membawa Tehyan dan Kongahyan.

Pada awalnya lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu Cina, pada istilah sekarang lagu-lagu klasik semacam ini disebut Phobin. Lagu Gambang Kromong muatan lokal yang masih kental unsur klasiknya bisa didengarkan lewat lagu Jali-Jali Bunga Siantan, Cente Manis, dan Renggong Buyut.

Pada tahun 70an Gambang Kromong sempat terdongkrak keberadaannya lewat sentuhan kreativitas "Panjak" Betawi legendaris "Si Macan Kemayoran", Almarhum H. Benyamin Syueb bin Ji'ung. Dengan sentuhan berbagai aliran musik yang ada, jadilah Gambang Kromong seperti yang kita dengar sekarang. Hampir di tiap hajatan atau "kriya'an" yang ada di tiap kampung Betawi, mencantumkan Gambang Kromong sebagai menu hidangan musik yanh paling utama.

Seniman Gambang Kromong yang dikenal selain H. Benyamin Syueb adalah Nirin Kumpul, H. Jayadi dan bapak Nya'at.

Seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan musik ini menjadi "terengah-engah" antara hidup dan mati (dalam tabel yang dibuat Yahya AS termasuk dalam kondisi "sedang"). Musik ini hanya terdengar di antara bulan Juni saja, yaitu sewaktu hari ulang tahun Jakarta. padahal tanggal dan tahun kelahiran kota jakarta saja belum jelas pastinya. Itupun di tempat-tempat tertentu, seperti di Setu Babakan misalnya.

Diperlukan pembinaan dan pelestarian berkelanjutan seni musik Gambang Kromong ini, khususnya bagi generasi muda Betawi. Kepedulian generasi muda Betawi terhadap keseniannya (seni musik dan seni silat) hendaknya harus melebihi generasi muda di daerah lainnya, karena keberadaan etnis Betawi itu sendiri yang berada di ibu kota Jakarta sebagai etalase kebudayaan Indonesia.

2. Tanjidor


Tanjidor” disebut musik rakyat Betawinamun instrumennya menggunakan 
alat musik modern, terutama alat tiupSeperti trombhon, piston (comet a piston), tenor,klarinet, as, dilengkapi alat musik tabuh membran, yang biasa disebut  tambur atau genderang.

Sejak kapan jenis musik etnis ini mulai menggeliat di tanah Betawi ? 
Dalam buku “Ikhtisar Kesenian Betawi”, terbitan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, disebutkan sudah tumbuh sejak abadke-19.  Kegiatan bermusik ini begitu santer dan terus berkembang di pinggiran kota Jakarta.
 Dalam sejarah perkembangannyakonon jenis musik ini berasal dari 
orkes yang semula dibina dalam lingkungan tuan-tuan tanahseperti 
 tuan tanah Citeureuptak jauh dari Cibinongpinggiran Jakarta.

Selaras dengan pergeseran zamansebagian besar alat musik yang
 hingga kini masih digunakan termasuk kategori instrumen yang sudah 
 usang dan cacat. Barang bekas yang sudah pada peyot dan penyok-penyok ini toh masih bisa berbunyi. Kendati suaranya kadang-kadang melenceng ke kanan dan ke kiri alias fals.  Saking tuanya
alat musik tersebut sudah ada yang dipatridan ada pula yang diikat dengan kawat agar tidak berantakan. Tetapi semua itu 
tidak mengurangi semangat penabuhnya yang umumnya juga sudah 
 pada lanjut usia.
























Sekali pernahkantor Dinas Kebudayaan DKI Jakartamenyelenggarakan 
 Festival Tanjidor beberapa waktu lalu di Anjungan DKI, Taman Mini Indonesia IndahNamun pesertanya tidak sampai belasanmenandakan  
jenis musik ini mulai berkurangMeniliksosok perkumpulan musik tersebut 
 hampir sebagian besar pemusiknya sudah tua renta.Kemungkinan  
penyelenggara ingin tahu sejauh manakah perkembangan musik ini 
 dan siapa pendukungnya ? Tanjidormasihkah berbunyi ?

Memangdibandingkan dengan jenis kesenian Betawi lainnya seperti 
Musik RebanaKasidahanLenongTari Topeng  Betawi dan sejenisnya 
boleh dikatakan Tanjidor agak ketingalan. Mat Saniputra Betawi kelahiran Kramat Pulogunduldibelakang bioskop 
Rivoli,Jakarta Pusatmengatakan, “Anak cucu  keturunan Betawi kagak pada mau ngopenin Tanjidor.
 Maunya pada ngedangdut melulu. Barangkali itu salah satunye yang
 bikin Tanjidor kagak mau cepat berkembang”, Tapi barangkali juga karena 
jaman udah banyak berubahbeginilah jadinya.Di kampung saya duluada
  perkumpulan orkes TanjidorLenong dan Ondel-Ondel Bang Rebo,
 di Gang Piin Kramat Pulo. Tapi sekarang mah dangdut aje yang digede-gedein”,tambahnya. “Tapi nggak tahulahkemungkinan di wilayah lain masih 
 banyak perkumpulan TanjidorDenger-denger sih Tanjidor masih berbunyi. Kebanyakan di pinggiran Jakarta, 
misalnya di DepokCibinongCiteureupCileungsiJonggolParung,
 di wilayah Bogor. Lainnya di Tanggerangdan Bekasi”. Katanya.

Sejak dulu memangTanjidor  tidak banyak memberi janji sehingga
 pendukungnya dari tahun ke tahun kian menurunSelain banyak yang 
sudah meninggalpendukungnya sekarang sudahpada uzur. Untuk singgah 
 menjadi seniman orkes Tanjidor memang harus punya bakat di bidang musik 
 modern atau ketrampilan itulah yang membuat orang senang menekuni hobinya. 
Dari dulu seniman Tanjidor tidak melulu mengandalkan hidup dari musik yang digeluti. 
Melainkan dari hasil bertaniburuh atau pedagang kecil-kecilan. Bermain musik hanya sebagaisambilan Selain menghibur diri untuk mencari  
kepuasan batin. Sebab lain kenapa Tanjidor tidak bisa  melesat seperti jenis kesenian 
 Betawi lainnya kemungkinan  karena fungsi ekonmiTanjidor lemahHidup orkes ini  
tergantung dari saweran  dari penontonAtau karena ditanggap untuk meramaikan 
 hajatansunatankawinan dan sebagainya.

Kendati pun keadaan sudah berubah 180 derajatnamun masih ada beberapa  
perkumpulan Tanjidor di wilayah Jakartaantara lain tercatat di Cijantung pimpinan Nyaat,
 Kalisari pimpinanNawinPondokrangon pimpinan Maun dan di Ceger pimpinan Gejen.

Di zaman kuda gigit besiorkes Tanjidor membawakan lagu-lagu asing
menurut istilah setempat antara lain lagu “Batalion”, “Kramton”, “Bananas”, 
Delsi”,“Was Tak Tak”,“Cakranegra”, “Welnes”. Tetapi dalam perkembangannya kemudian lebih banyak membawakan 
lagu-lagu Betawisemisal lagu “Surilang”, “Jali-Jali” dan sebagainya. Bahkan selarasdengan perkembangan zaman
orkes Tanjidor sekarang malah lebih asyik membawakan lagu-lagu dangdut.  
“Yang penting kata Tanjidor harus tetap berbunyi” kata Kamil Shahab
mantananggota DPRD DKI Jakarta, yang keturunan Arab kelahiran kampung Batuceper Jakarta Pusat.
(www.tamanismailmarzuki.com)

3. Lenong betawi 

Lenong adalah teater rakyat khas Betawi yang dikenal sejak tahun 1920-an. Sejak awal keberadaannya, diiringi dengan musik gambang kromong. Dalam dua Lenong dikenal dua jenis cerita yaitu Lenong Denes (bercerita tentang kerajaan atau kaum bangsawan) sementara Lenong Preman berkisah tentang kehidupan rakyat sehari-hari ataupun dunia jagoan. 





Lenong Denes sendiri adalah perkembangan dari bermacam bentuk teater rakyat Betawi yang sudah punah, seperti wayang sumedar, wayang senggol ataupun wayang dermuluk. 





Sementara lenong preman disebut-sebut sebagai perkembangan dari wayang sironda. 
Yang cukup signifikan dalam perbedaan penampilan kedua lenong tersebut, Lenong Denes umumnya menggunakan bahasa Melayu halus, sedang Lenong Preman rata-rata menggunakan bahasa Betawi sehari-hari. 



Beberapa seniman Lenong Betawi terkenal yang lahir dan terkenal dari kesenian ini cukup banyak. Sebut saja H. Bokir (alm), Mpok Nori sampai Mandra. Namun tokoh dalam bidang ini siapa lagi kalau bukan H.M. Nasir T (Bang Nasir). 

4. Orkes Gambus 

Budaya Timur Tengah ternyata juga memiliki pengaruh kuat dalam khasanah Betawi, hal ini terbukti bahkan sampai saat ini di seantero Jakarta terdapat puluhan grup orkes gambus. Orkes ini biasanya ditampilkan di acara pesta perkawinan untuk mengiringi para penyanyi gambus baik laki maupun perempuan. Mereka biasanya membawakan lagu-lagu gambus dengan lirik religius maupun lagu-lagu cinta berbahasa Arab.

Agar lebih semarak, saat musik gambus sedang dimainkan, biasanya ada beberapa penari zapin yang terdiri dari beberapa orang laki-laki. Walaupun dalam perkembangannya, terkadang juga melibatkan beberapa penari perut (belly dancer) perempuan sebagai daya tarik. Mungkin lantaran grup musik gambus selalu identik dengan pesta pernikahan warga etnis Betawi, grup musik gambus masih tumbuh subur di Jakarta, lantaran peminatnya masih saja ada.

Bahkan beberapa artis gambus kerap lahir lantaran jam terbangnya dari pesta ke pesta cukup/sangat tinggi. Salah seorang tokoh musik gambus di Jakarta, Munif Bahaswan, mengakui, dibanding musik dangdut, musik gambus kurang diminati di luar etnis Betawi, Arab dan India.

5. Rebana

Selain musik gambus, masih ada musik Betawi yang dipengaruhi budaya Timur Tengah. Musik rebana misalnya, adalah musik khas Betawi yang bernafaskan Islam. Macam musik rebana sendiri demikian banyak, digolongkan sesuai alat musik maupun syair-syair yang dibawakan oleh para pemain musiknya.

Jenis-jenis musik rebana, misalnya rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor juga rebana biang. Biasanya, musik rebana (khususnya rebana biang) digunakan untuk memeriahkan pesta maupun arak-arakan. Tokoh rebana adalah H. Abdul Rahman. 

6. Wayang Betawi

Salah satu produk budaya Betawi hasil akulturasi dari budaya Jawa dan Sunda adalah wayang. Namun demikian, pengaruh Sunda lebih tampak dalam kesenian ini. Mungkin secara geografis memang lebih dekat. Misalnya dalam hal penggunaan bahasa. Dalam wayang digunakan bahasa Betawi campur Sunda. 

Dalam dunia pewayangan Betawi dikenal dua jenis wayang: Wayang Kulit (dalang terkenalnya H. Surya Bonang alias Ki Dalang Bonang), serta Wayang Golek (dalang terkenalnya Tizar Purbaya). Umumnya, wayang Betawi mengambil lakon tentang kehidupan kerajaan di dunia pewayangan. Ada pula tokoh komedi Udel (persamaannya Cepot di dalam Sunda). 

Musik iringan dalam wayang Betawi sama halnya dengan gamelan topeng, berupa musik gamelan Sunda campur Betawi, dengan ciri khas alat musik tehyan (sebagai ciri khas Betawi) yang disebut gamelan aje